Tuesday, 12 July 2011

ku persiapkan mental jauh-jauh hari ketika kau jauh, merajut keberanian dalam sepi, Aku tahu aku bisa, aku tahu aku adalah wanita kuat, hanya saja tanpa mu rasanya tidak sama lagi. Kau tahu kan bagimana aku membenci perubahan, meskipun aku sadari bahwa hidup tidak statis. Fine..i can life with that, aku bisa mengerti konsep itu. Namun yang tidak akan ku mengerti adalah perpisahan. Kau tahu kan aku benci bilang selamat tinggal, aku pilih untuk kau caci maki daripada harus kehilangan. Namun terlebih dari itu kenapa harus sekarang...ketika bunga di hati ku mulai merekah, ketika matahari tersa begitu hangat, kenapa tidak nanti saja..ketika ku sudah bosan dengan mu

Tuesday, 5 July 2011

merasa hidup

bercermin dan menyadari bahwa aku berlebih, menyadari sepenuhnya bahwa aku telah makan ketika aku merasa sedih dan insecure. Ini tidak baik, harus dihentikan detik ini. Aku harus menyadari bahwa makan tidak akan menghilangkan kecemasan, setelah itu cemas masih menggelantung bebas di pikiran. Aku harus menanamkan bahwa cemas adalah bagian dari merasa hidup, kasarnya kalau tidak cemas maka tidak hidup. Apakah sesulit itu untuk dimengerti bahwa tidak hanya aku, bahkan mantan ku yang super hebat bersandiwara itu pun mengalami ini, atau kakak ku yang terlihat santai, jadi apa masalahnya? yang bisa kulakuan adalah merasakan, membiarkan, dan merasa hidup.

Sunday, 3 July 2011

hi beauty

sumpah. aku mengantuk. Sapuan dingin Ac semakin membuat ku menguap panjang panjang. Aku membutuhkan kopi agar melek, agar bisa merangkai hari yang tak akan kembali ini memudahkan hari hari ku esok. Aku mencium harapan baru, bahwa hidup ku akan bergerak ke arah yang lebih baik, lebih membahagiakan, lebih murah rezeki, lebih banyak kesempatan, lebih banyak tawa, lebih banyak penggemar calon pendamping hidup, dan tentunya lebih banyak kesempatan untuk berkarir. aku dapat merasakannya, keajaiban akan datang, aku hanya perlu mengerjakan PR ku setiap hari. Menjadi lebih baik.

Thursday, 30 June 2011

jejak masa lalu

aku berpaling dari gang itu, gang dimana dulu kau, aku dan mereka tertawa seakan- akan tak peduli akan beban hidup sebagai mahasiswa kosan yang berduit pas-pasan. Aku ingin sekali melewati bangunan itu lagi, tempat dimana kau dan aku berkeluh kesah dan saling mencaci. Entah sudah berapa kali aku singgah di kamar mu yang nyaman dan dekat dengan pusat kota itu, sudah ratusan mentari pagi pernah kulihat dari jendela kamar mu yang sering kali mengobati kerinduan ku akan rumah.

Aku ingin menelusuri setiap jengkal bangunan itu lagi, hanya untuk merasakan kembali kehadiran jejak masa lalu, untuk merasakan kembali pesona mu, untuk merasakan lagi rasa sayang mu yang aku sia2kan begitu saja. Hingga lenyap. Hingga kau berpaling. Hingga kau meninggalkan dalam sepi. Aku ingin kembali ke masa itu, untuk bilang maaf...dan terima kasih.

Wednesday, 22 June 2011

aku termangu sesaat setelah kau menatap ku dalam diam. Aku mencoba bmenerka emosi yang tidak tampak diwajah tenang mu. Aku termangu semata-mata karena pesona mu menyilaukan. Aku mengutuk diri ku yang masih saja mencintai mu sekian lama. Sementara kau dihadapan ku duduk dengan wajah malaikat, sangat tenang, terdiam, dan aku tak mampu membca emosi mu.

Aku selalu berharap bisa menikahi mu suatu hari nanti, ktika kau menyadari bahwa aku adalah pemenangnya, aku yakin kau akan segera sadar bahwa hanya aku yg pantas untuk mu. Meskipun kau membisu, aku tahu kau masih mencintai ku.

Aku memalingkan wajah ketika kau mencoba untuk bicara, ku lihat kau berusaha begitu keras untuk bisa tenang di hadapakan ku. ini kau menatap ku, aku kembali membisu namun sesaat kemudian yang ku tahu semuanya mengalir begitu mudah. Obrolan yang tercipta diantara kita begitu menyenangkan, diringi oleh gelak tawa mu dan aku yg meninju pelan bahu mu, oh ingin rasanya kau ku bawa pulang lantas ku jadikan gantungan kunci. Kamu patner yang seimbang untuk ku, kamu mampu beragumentasi, kamu pintar, dan oiya kamu ganteng. Apalagi yang ku cari? semuanya lengkap di kamu. Lantas apalagi yang kau tunggu? aku ingin kau segera melamar ku.

Tuesday, 21 June 2011

itu dia

suatu ketika hp ku berdering, layanan vibrate yang disengaja membuat ku tak segera meraih telepon dari mu, telepon dari seeorang yang selalu ku nanti, seseorang yang mampu membuat ku terlonjak kegirangan. Aku tak mendengarnya , hingga rasa kaget tertera di wajah ku ketika melihat nama mu di jejak layar. aku sesaat terpaku. Senang sekaligus takut, kita sudah berbulan bulan lamanya tak berbicara satu sama lain, aku bingung. Entah ini sebuah kebetulan atau tidak, ketika aku masih terpaku, vibrate di hape ku kembali menyentak. Nama mu...ya aku melihat nama mu...

Obrolan dengan mu behitu panjang, tak lagi singkat. Mungkin karena suara mu memang selalu terdengar renyah ditelinga ku, keisengan mu selalu ku nantikan untuk mewarnai hari -hari ku lagi, obrolan dengan mu selalu menyenangkan, selalu. Aku melonjak girang, mungkin kau bisa rasakan itu dari nada suara ku yang sangat bersemangat. Kau memang kharismatik, pesona mu tak pernah pudar.

Aku berharap kita bersama kembali, aku tidak menyangka jika saat itu sebenarnya kau sedang mengharapkan hal yang sama. hingga di suatu senja saat kita akhirnya bertemu kembali, kau bilang hal -hal indah yang dapat membuat ku terbang ke nirwana. Kau bilang mengingkan aku untuk selamanya.

Wednesday, 8 June 2011

Malaikat hujan menari

aku tahu ia akan datang, si malaikat hujan berwajah rupawan, menghilangkan penat dan kegelisahan. Membawa sejuk pada udara panas yang tengah berteriak di jalanan ibu kota, aku menyenderkan bahu lelah ini di sandaran bis kopaja, menunggu mu menyapa. Aku tahu kamu akan datang, langit sedang mendung. Wajah-wajah khawatir tertera jelas di jalanan, Mereka memaki mu dan mengutuk mu untuk tidak datang. Lantas aku sebaliknya, selalu mencari tanda2 mu di langit, aku menginginkan mu selayaknya romeo menginginkan juliet. Aku tidak malu mengakui itu, kau lebih dari sekedar air, kau adalah malaikat...malaikat hujan.